Jauh sebelum derap pasukan Mongol meruntuhkan Baghdad pada pertengahan abad ke-13, wilayah Nusantara telah lebih dahulu hadir dalam catatan para cendekiawan Arab di Timur Tengah. Fakta ini menegaskan bahwa kepulauan Indonesia bukan wilayah asing yang baru dikenal dunia saat Marco Polo melintas, melainkan telah menjadi perhatian internasional sejak era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah.
Sejak abad ke-9 Masehi, karya-karya geografi Arab mulai menyebut wilayah di timur jauh secara sistematis. Salah satu tokoh awal yang mencatatnya adalah Ibnu Khordadbeh, pejabat pos dan intelijen Abbasiyah, yang dalam tulisannya telah memetakan jalur laut menuju Asia Timur serta menyebut pulau-pulau penghasil komoditas bernilai tinggi.
Catatan Ibnu Khordadbeh menunjukkan bahwa dunia Islam telah memiliki pengetahuan navigasi maritim yang maju. Nusantara digambarkan sebagai simpul perdagangan penting yang terhubung langsung dengan jaringan ekonomi global pada masa itu.
Interaksi Arab–Nusantara didorong terutama oleh perdagangan kapur barus dan rempah-rempah. Barus di Sumatra Utara bahkan tercatat sebagai produsen kapur barus terbaik di dunia, komoditas yang nilainya setara emas di pasar Timur Tengah.
Keberanian para pelaut Arab mengarungi Samudra Hindia tercermin dari semakin detailnya laporan mengenai pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Wilayah ini bukan hanya tujuan dagang, tetapi juga ruang interaksi lintas budaya yang intens.
Pada tahun 851 Masehi, seorang pedagang bernama Sulaiman al-Tajir memberikan kesaksian berharga mengenai kekuatan maritim Sriwijaya. Ia menggambarkan kerajaan tersebut sebagai penguasa jalur laut utama yang menjamin keamanan perdagangan internasional.
Dominasi Sriwijaya tidak hanya diakui oleh pedagang Arab, tetapi juga oleh komunitas niaga internasional lainnya. Keberadaan otoritas maritim yang kuat membuat Nusantara menjadi kawasan yang relatif stabil dan aman bagi pelayaran jarak jauh.
Kesaksian tersebut diperkuat oleh Al-Mas’udi, sejarawan besar yang kerap dijuluki Herodotus dunia Arab. Dalam karyanya Muruj adz-Dzahab atau Ladang Emas, ia menggambarkan kemakmuran raja-raja Nusantara dengan metafora yang mencerminkan kelimpahan emas dan sumber daya alam.
Catatan Al-Mas’udi membentuk imajinasi dunia Islam mengenai Nusantara sebagai negeri subur yang kaya dan eksotis. Narasi ini memicu rasa ingin tahu yang besar di kalangan ilmuwan dan pelaut Arab.
Semua catatan itu lahir saat Baghdad masih menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Para ilmuwan Abbasiyah mengolah laporan pelaut menjadi peta dan deskripsi geografis yang sistematis, menjadikan Nusantara bagian dari pemahaman global tentang dunia.
Hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa pengetahuan tentang Nusantara baru muncul setelah kedatangan bangsa Eropa. Jauh sebelumnya, para cendekiawan Muslim telah mengumpulkan informasi rinci tentang geografi, flora, fauna, bahkan fenomena alam di kepulauan ini.
Hubungan Arab–Nusantara juga melampaui kepentingan dagang. Sumber sejarah menyebut adanya komunikasi diplomatik antara penguasa Nusantara dan Khalifah di Timur Tengah, menunjukkan tingkat kesadaran geopolitik yang tinggi dari elite lokal.
Buzurg bin Shahriyar, kapten kapal dan penulis asal Persia-Arab, memperkaya narasi tersebut lewat kumpulan kisah pelaut dalam Aja’ib al-Hind. Ia merekam tantangan pelayaran serta interaksi dengan masyarakat pesisir Sumatra yang mahir dan berdaulat atas lautnya.
Karya-karya ini kemudian menjadi fondasi bagi Al-Idrisi pada abad ke-12. Dengan mengompilasi sumber-sumber Arab sebelumnya, Al-Idrisi menyusun peta dunia paling akurat pada masanya, di mana Nusantara telah ditempatkan secara jelas dan proporsional.
Serangan Mongol ke Baghdad pada 1258 memang menghancurkan pusat ilmu Abbasiyah, tetapi tidak menghapus pengetahuan yang telah tersebar luas. Informasi tentang Nusantara tetap hidup di kalangan pelaut dan pedagang lintas generasi.
Kondisi inilah yang memungkinkan pengelana seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah melakukan perjalanan panjang dengan rujukan yang relatif mapan. Mereka bukan penemu pertama, melainkan penerus tradisi pengetahuan yang telah ada.
Jejak kehadiran komunitas Arab di pesisir Nusantara pun telah muncul sebelum Islamisasi besar-besaran. Interaksi berlangsung damai melalui perdagangan, pernikahan, dan pertukaran budaya, bukan melalui penaklukan militer.
Para penulis Arab berulang kali mengungkap kekaguman terhadap kemandirian ekonomi Nusantara. Kayu cendana, lada, dan aneka rempah menjadi bukti kekayaan alam yang menopang posisi strategis kawasan ini dalam ekonomi dunia.
Bagi sejarawan modern, catatan Arab pra-Mongol menjadi sumber penting untuk merekonstruksi kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara yang jejak arkeologisnya terbatas. Tulisan-tulisan itu menjembatani kekosongan data sejarah.
Dengan demikian, narasi yang menempatkan invasi Mongol atau kedatangan Eropa sebagai awal pengenalan Nusantara perlu ditinjau ulang. Dunia Arab telah lebih dulu mengabadikan kepulauan ini dalam literasi ilmiah mereka.
Jejak tersebut menegaskan bahwa Nusantara sejak lama merupakan bagian integral dari peradaban global. Melalui tinta para cendekiawan Arab, kemegahan kepulauan ini tercatat jauh sebelum dunia modern mengenalnya secara formal.



No comments:
Post a Comment